Kamis, November 29, 2007

my Po$ting

6 Tahap Perkembangan Iman Sepanjang Usia
Posted on Selasa, 13 November 2007.
Suka atau tidak suka, pembicaraan mengenai agama akan selalu menarik banyak orang, mulai dari yang ortodoks dan fundamentalis hingga yang moderat dan liberal. Dari diskusi itu, biasanya akan terlihat bagaimana seseorang mengimani agamanya Tuhannya. Ada yang memegang aturan dengan ketat; penyimpangan dan penambahan berarti sesat, kafir, atau masuk neraka tanpa ampun. Di sisi lain, ada pula yang terkesan cuek dengan ritual; bagi mereka, yang penting adalah golden rule: Memperlakukan orang lain (dengan baik) seperti kita ingin diperlakukan orang lain (dengan baik pula).
Mengapa bisa terdapat beragam bentuk penghayatan iman? Menurut James Fowler, seorang teolog, faktor lingkungan atau faktor ‘hidayah’/’karunia’ saja tidak cukup untuk menjelaskannya. Iman juga adalah interaksi faktor-faktor di atas dengan pikiran seseorang yang semakin matang seiring bertambahnya usia. Dari pemahaman itu, ia kemudian menyusun sebuah tahapan pertumbuhan iman dari perspektif psikologi perkembangan.
Bagi Fowler, iman didefinisikan sebagai ‘cara memandang atau mengetahui dunia’. Iman juga tidak harus selalu tertuju kepada sebuah tuhan atau sosok makhluk lainnya; keyakinan terhadap sains, kemanusiaan, atau Jedi sekalipun sah-sah saja disebut sebagai iman, asalkan orang itu meyakini obyek imannya sebagai yang paling bernilai (ultimate worth) dan mampu memberi makna bagi hidupnya.
Dimulai dengan definisi itu, ia bersama rekan-rekannya dari Harvard Divinity School mewawancarai lebih dari 400 orang dengan usia, keyakinan, suku, latar belakang pendidikan, dan latar belakang sosial-ekonomi yang beragam. Hasilnya adalah 6 tahap perkembangan iman dari awal hingga akhir hidup seseorang. Keenam tahap ini dilalui dengan linear, artinya tahap berikut baru dapat dicapai setelah menyelesaikan tahap sebelumnya. Namun, gambaran umur dalam setiap tahap hanya sekedar perkiraan kasar; transisi ke tahap selanjutnya biasanya dipicu oleh pengalaman baru, krisis, atau pencerahan yang mengguncang iman. Karena itu, banyak juga orang yang seumur hidupnya tidak pernah beranjak dari tahap tertentu, meskipun ada pula yang bisa melewati tahap tertentu sebelum mencapai usia yang ‘seharusnya’.
Tahap 1: Intuitive-projective faith (usia 18-24 bulan sampai 7 tahun)
Pada masa ini ‘iman’ anak banyak diperoleh dari apa yang diceritakan orang dewasa. Dari cerita-cerita itu mereka membentuk gambaran Tuhan yang perkasa, surga yang imajinatif, dan neraka yang mengerikan. Gambaran ini umumnya bersifat irasional, karena pada masa ini anak belum memahami sebab-akibat dan belum dapat memisahkan kenyataan dan fantasi. Mereka juga masih kesulitan membedakan sudut pandang Tuhan dengan sudut pandang mereka atau orangtuanya. Konsep Tuhan yang diyakini pada masa ini berkisar pada kepatuhan (obedience) dan hukuman (punishment).
Tahap 2: Mythic-literal faith (usia 7 sampai 12 tahun)
Anak sudah lebih logis dan mulai mengembangkan pandangan akan alam semesta yang lebih tertata. Meskipun sudah mengikuti kepercayaan dan ritual orangtua serta masyarakat, mereka cenderung mempercayai cerita dan simbol religius secara literal karena pada masa ini anak belum mampu berpikir abstrak. Di sisi lain, mereka sudah dapat memahami bahwa Tuhan mempunyai sudut pandang lain dengan turut mempertimbangkan usaha dan niat seseorang sebelum ‘menghakiminya’. Mereka percaya bahwa Tuhan itu adil dalam memberi ganjaran yang sepantasnya bagi manusia.
Tahap 3: Synthetic-conventional faith (usia remaja dan selanjutnya)
Setelah mampu berpikir abstrak, remaja mulai membentuk ideologi (sistem kepercayaan) dan komitmen terhadap ideal-ideal tertentu. Di masa ini mereka mulai mencari identitas diri dan menjalin hubungan pribadi dengan Tuhan. Namun identitas mereka belum benar-benar terbentuk, sehingga mereka juga masih melihat orang lain (biasanya teman sebaya) untuk panduan moral. Iman mereka tidak dapat dipertanyakan dan sesuai dengan standar masyarakat. Tahap ini pada umumnya terdapat pada pengikut agama yang terorganisasi; sekitar 50 persen orang dewasa mungkin tidak akan melewati tahap ini.
Tahap 4: Individuative-reflective faith (awal hingga pertengahan umur duapuluhan)
Mereka yang bisa mencapai tahap ini mulai memeriksa iman mereka dengan kritis dan memikirkan ulang kepercayaan mereka, terlepas dari otoritas eksternal dan norma kelompok. Pada tahap ini masalah orang muda umumnya terkait dengan pasangan hidup, sehingga perpindahan ke tahap ini bisa dipicu oleh perceraian, kematian seorang teman, atau peristiwa-peristiwa lainnya yang menimbulkan stres.
Tahap 5: Conjunctive faith (usia paruh baya)
Pada usia paruh baya, orang jadi semakin menyadari batas-batas akalnya. Mereka memahami adanya paradoks dan kontradiksi dalam hidup, dan sering menghadapi konflik antara memenuhi kebutuhan untuk diri sendiri dengan berkorban untuk orang lain. Ketika mulai mengantisipasi kematian, mereka dapat mencapai pemahaman dan penerimaan lebih dalam, yang diintegrasikan dengan iman yang mereka miliki sebelumnya.
Tahap 6: Universalizing faith (lanjut usia)
Pada tahap terakhir yang jarang dapat dicapai ini, terdapat para pemimpin moral dan spiritual, seperti Mahatma Gandhi, Martin Luther King, dan Bunda Teresa, yang visi dan komitmennya terhadap kemanusiaan menyentuh begitu banyak orang. Mereka digerakkan oleh keinginan untuk “berpartisipasi dalam sebuah kekuatan yang menyatukan dan mengubah dunia”, namun tetap rendah hati, sederhana, dan manusiawi. Karena sering mengancam kekuasaan, mereka kerap menjadi martir; dan meski mencintai kehidupan, mereka tidak terikat padanya.
Kritik dan Keterbatasan
Sebagai sebuah temuan awal (jika tidak dikatakan pionir) dalam bidang perkembangan iman, wajar jika kemudian ada beberapa kritik terhadap penelitian Fowler yang telah menghasilkan tahapan ini. Dari proses pengambilan sampel, subyek penelitian Fowler lebih mewakili populasi berbudaya barat dengan kecerdasan dan pendidikan yang cukup baik. Pada mereka yang tidak termasuk, terutama masyarakat berbudaya non-barat, hasil ini harus diuji lebih lanjut. Selain itu, definisi ‘iman’ yang dipakai Fowler agak berbeda dari pengertian yang lebih umum yang lebih menekankan penerimaan ketimbang introspeksi kognitif. Ia juga dikritik karena menganggap iman yang sederhana dan tak terbantahkan sebagai iman yang belum matang.
Terlepas dari segala kritik dan keterbatasan yang ada, upaya penyusunan tahapan iman ini harus dihargai. Di tengah serangan dari sebagian ilmuwan agresif yang menganggap agama dan iman kepada Tuhan sebagai sebuah penyakit mental, delusi, atau skizofrenia, usaha Fowler merupakan awal dari banyak penelitian lanjutan yang dilakukan para ilmuwan psikologi untuk mendamaikan sains dan agama.




Pada 30 tahun yang akan datang, teknologi rekayasa genetika sudah demikian berkembangnya, sehingga cangkok otak sudah dapat dilaksanakan dengan mudah. Oleh karena itu banyak otak yang diawetkan menunggu pasien yang membutuhkan. Di suatu bank/toko donor otak dijual otak dari berbagai negara di dunia. Dibawah ini adalah daftar harga otak berdasarkan negara asal.
Asal Otak Harga USA free/obral/sale Inggris Rp. 1.000.000,- Jerman Rp. 900.000,- Jepang Rp. 100.000,- ... ... Indonesia Rp. 1.000.000.000,-
Melihat daftar harga yang semacam itu, seorang turis yang masuk toko tersebut menjadi heran, terus dia bertanya kepada yang empunya toko
"Pak, ... maaf pak kelihatannya daftar harga anda itu salah dan terbalik"
Yang punya toko: "Oh ... tidak bung, harga otak tersebut memang betul, ... otak yang termurah adalah otak USA dan Jepang karena sering digunakan jadi sudah rongsokan, ... kalau anda membutuhkan otak, yang terbaik adalah otak Indonesia, karena masih orisinil, belum


Aneh aj
Seorang Indonesia menderita kecelakaan parah sehingga membutuhkan operasi otak yang canggih di USA. Dokter di USA yang sedang melakukan operasi tersebut melakukan pembedahan pada kepala korban, namun terjadi heboh besar karena ternyata didalam kepala korban tidak terdapat otak. Karena mengalami jalan buntu, dokter tersebut menelpon koleganya yang biasa menangani operasi otak orang Indonesia. Kolega ini dengan tenangnya menyarankan agar dokter tersebut jangan mencari otak orang Indonesia di kepala tetapi di "dengkul" (= lutut) ... voila ... ternyata setelah dicheck ... memang betul otak orang Indonesia tersebut betul-betul di "dengkul."

Tidak ada komentar: